Rabu, 30 Agustus 2017

Lomba Artikel Dinkes Yogyakarta 2017

Cinta Rokok = Cari Mati

Caecilia Ega Sanjaya

Kenal Jessica? Iya, Jessica. Jessica Kumala Wongso. Aku tahu apa yang ada di pikiranmu. Sianida. Racun berbahaya yang membunuh itu ternyata terkandung dalam rokok.
Bukan hanya sianida, terdapat 2000 zat lain yang berbahaya dalam rokok. Arsenik misalnya. Ingat kasus Munir? Mengapa hingga sekarang pelaku pembunuh Munir tidak ditemukan? Karena arsenik. Suatu zat tak berbau, tak berasa, dan tak berwarna yang amat berbahaya. Hanya dokter hebat yang bisa mendeteksinya.
Yah, karena banyaknya racun, tidak heran jika 427.948 orang meninggal akibat rokok di Indonesia selama 2015.
Sayangnya, masih banyak orang yang masih mencintai rokok. Seakan tidak ada hal lain yang bisa dicintai. Padahal banyak hal lain yang lebih bermutu dari rokok. Pendidikan misalnya.
Temanku, seorang perokok pasif. Tadinya ia pintar. Tadinya. Sekarang, karena masalah kesehatan, pendidikannya merosot. Ia sering batuk di kelas. Kalau hanya batuk biasa, mungkin tak apa. Ia terkena asma.
Sejak terkena asma, temanku harus lebih fokus pada pengobatan. Nilainya terus menerus turun. Memang, tidak menembus batas KKM. Tetapi turun jauh dari nilainya yang dulu.
Rokok, dia penyebabnya.Yap, sesuai fakta, perokok pasif memang lebih berpotensi terkena penyakit dibandingkan perokok aktif.
Aku sedikit bingung, apa sih manfaat merokok? Bisa membuat tajir? Membuat pintar? Bukankah sebaliknya?
Membeli rokok lalu membakarnya. Mubazir! Yang ada hanya buang-buang uang. Ditambah lagi, berbahaya untuk kesehatan. Kusimpulkan, merokok tidak memiliki manfaat.
Jadi bagaimana cara menghentikannya? Fokuslah pada pendidikan! Aku kenal seorang ‘mantan’ perokok yang berhenti merokok. Dulunya, ia bisa berlari dengan sangat cepat. Sejak merokok, kecepatan berlarinya menurun. Setelah itu, ia memutuskan untuk berhenti merokok.
Ada juga yang berhenti merokok karena paksaan. Ibunya memberi pilihan. Merokok namun jika sakit tidak akan diobati, atau berhenti merokok.
Berhenti merokok memang sulit. Sekali merokok, zat adiktif yang terkandung dalam rokok akan membuat candu. Akan sulit sekali untuk berhenti.
Pemerintah negara Australia memiliki progam sendiri untuk mengurangi angka perokok. Dengan membuat bungkus rokok tanpa hiasan apapun, pemerintah Australia mampu mengurangi jumlah perokok.

Pertanyaannya, mengapa Indonesia tidak mencoba melakukan tindakan itu? Pemerintah Indonesia memilih untuk memberi gambar penyakit-penyakit akibat merokok.
Bagaimana realitanya? Gambar-gambar seperti itu kurang berpengaruh. Malah, semakin banyak perokok di Indonesia.
Karena susahnya berhenti, apa solusi paling mudah? Hindari rokok! Anak Indonesia pantang merokok!


Nama peserta             : Caecilia Ega Sanjaya
Tempat tanggal lahir   : Yogyakarta, 5 Juli 2003
Alamat                        : Perum Boko Permata Asri B1-10, Bokoharjo, Prambanan, Sleman, DIY 55572
No HP                         : 085600383049 (WhatsApp), (0274) 4398791

Tidak ada komentar:

Posting Komentar