Cinta Rokok = Cari Mati
Caecilia Ega Sanjaya
Kenal Jessica? Iya, Jessica. Jessica Kumala Wongso. Aku tahu apa yang ada di pikiranmu. Sianida. Racun berbahaya yang membunuh itu ternyata terkandung dalam rokok.
Bukan
hanya sianida, terdapat 2000 zat lain yang berbahaya dalam rokok. Arsenik
misalnya. Ingat kasus Munir? Mengapa hingga sekarang pelaku pembunuh Munir
tidak ditemukan? Karena arsenik. Suatu zat tak berbau, tak berasa, dan tak
berwarna yang amat berbahaya. Hanya dokter hebat yang bisa mendeteksinya.
Yah,
karena banyaknya racun, tidak heran jika 427.948 orang meninggal akibat rokok di Indonesia selama 2015.
Sayangnya,
masih banyak orang yang masih mencintai rokok. Seakan tidak ada hal lain yang
bisa dicintai. Padahal banyak hal lain yang lebih bermutu dari rokok.
Pendidikan misalnya.
Temanku,
seorang perokok pasif. Tadinya ia pintar. Tadinya. Sekarang, karena masalah
kesehatan, pendidikannya merosot. Ia sering batuk di kelas. Kalau hanya batuk
biasa, mungkin tak apa. Ia terkena asma.
Sejak
terkena asma, temanku harus lebih fokus pada pengobatan. Nilainya terus menerus
turun. Memang, tidak menembus batas KKM. Tetapi turun jauh dari nilainya yang
dulu.
Rokok,
dia penyebabnya.Yap, sesuai fakta, perokok pasif memang lebih berpotensi
terkena penyakit dibandingkan perokok aktif.
Aku
sedikit bingung, apa sih manfaat merokok? Bisa membuat tajir? Membuat pintar?
Bukankah sebaliknya?
Membeli
rokok lalu membakarnya. Mubazir! Yang ada hanya buang-buang uang. Ditambah
lagi, berbahaya untuk kesehatan. Kusimpulkan, merokok tidak memiliki manfaat.
Jadi
bagaimana cara menghentikannya? Fokuslah pada pendidikan! Aku kenal seorang
‘mantan’ perokok yang berhenti merokok. Dulunya, ia bisa berlari dengan sangat
cepat. Sejak merokok, kecepatan berlarinya menurun. Setelah itu, ia memutuskan
untuk berhenti merokok.
Ada
juga yang berhenti merokok karena paksaan. Ibunya memberi pilihan. Merokok
namun jika sakit tidak akan diobati, atau berhenti merokok.
Berhenti
merokok memang sulit. Sekali merokok, zat adiktif yang terkandung dalam rokok
akan membuat candu. Akan sulit sekali untuk berhenti.
Pemerintah negara Australia memiliki progam sendiri untuk mengurangi angka perokok. Dengan membuat bungkus rokok tanpa hiasan apapun, pemerintah Australia mampu mengurangi jumlah perokok.
Pertanyaannya, mengapa Indonesia tidak mencoba melakukan tindakan itu? Pemerintah Indonesia memilih untuk memberi gambar penyakit-penyakit akibat merokok.
Bagaimana realitanya? Gambar-gambar seperti itu kurang berpengaruh. Malah, semakin banyak perokok di Indonesia.
Karena susahnya berhenti, apa solusi paling mudah? Hindari rokok! Anak Indonesia pantang merokok!
Nama peserta : Caecilia Ega Sanjaya
Tempat tanggal lahir : Yogyakarta, 5 Juli 2003
Alamat : Perum Boko Permata Asri B1-10, Bokoharjo, Prambanan, Sleman, DIY 55572
No HP : 085600383049 (WhatsApp), (0274) 4398791

Tidak ada komentar:
Posting Komentar