Third Person
Caecilia Ega Sanjaya
Namanya Damar. Cowok itu sudah kukenal sejak SD. Seperti
kata orang, tidak ada sebuah persahabatan lawan jenis tanpa rasa suka. Dan
entah sejak kapan, aku mulai menyukai Damar.
Hari ini, 26 Agustus 2016. Tepatnya pukul 6.33, Damar
membawa sebuket bunga untukku. Hari itu juga, kami resmi berpacaran.
Sudah empat bulan kami berpacaran. Dan sudah empat bulan
pula, kami memutuskan untuk belajar melakukan hubungan jarak jauh. Kami
berpisah ketika memasukki perguruan tinggi. Damar memilih sebuah perguruan
tinggi negeri di Jogja, sedangkan aku di Bandung.
Memasukki bulan kesembilan, hubungan kami mulai
merenggang. Kami juga jarang berkomunikasi.
Aku tahu, Damar sibuk. Tetapi, sesibuk apapun Damar, ia
pasti berusaha menghubungiku.
Kini aku mengetahui penyebabnya. Jessica, teman Damar
sedari kecil, menjadi orang ketiga diantara kami.
Aku mengunjungi Damar di hari ulangtahunnya.
Kami masih bercanda bersama sebelum Jessica datang. Namun
setelahnya, Damar dan Jessica bercanda berdua, tanpaku.
Baiklah. Seperti cerita klise lainnya, kuputuskan untuk
mengakhiri hubungan dengannya.
Semua karena Jessica, the third person.
5 Juli, hari ulang-tahunku. Hari yang tepat untuk momen
itu.
Damar memasukki kos-kosanku. Sembari tersenyum, ia
mengulurkan sekotak kado berukuran besar.
Kubuka kado itu.
Sebuah tulisan.
“Jessica dan Damar, sejak 2014.”
Oh Tuhan, kukira Jessica the third person.
Ternyata akulah the third person.
Tulisan ini menjadi salah satu kontributor terpilih lomba Flash Fiction 200 Kata yang diadakan oleh Mazaya Publishing House :)
hmmm, gak nyangka ternyata kamunya org ketiganya hihi
BalasHapus