Rabu, 30 Agustus 2017

Third Person

Third Person
Caecilia Ega Sanjaya

Namanya Damar. Cowok itu sudah kukenal sejak SD. Seperti kata orang, tidak ada sebuah persahabatan lawan jenis tanpa rasa suka. Dan entah sejak kapan, aku mulai menyukai Damar.
Hari ini, 26 Agustus 2016. Tepatnya pukul 6.33, Damar membawa sebuket bunga untukku. Hari itu juga, kami resmi berpacaran.
Sudah empat bulan kami berpacaran. Dan sudah empat bulan pula, kami memutuskan untuk belajar melakukan hubungan jarak jauh. Kami berpisah ketika memasukki perguruan tinggi. Damar memilih sebuah perguruan tinggi negeri di Jogja, sedangkan aku di Bandung.
Memasukki bulan kesembilan, hubungan kami mulai merenggang. Kami juga jarang berkomunikasi.
Aku tahu, Damar sibuk. Tetapi, sesibuk apapun Damar, ia pasti berusaha menghubungiku.
Kini aku mengetahui penyebabnya. Jessica, teman Damar sedari kecil, menjadi orang ketiga diantara kami.
Aku mengunjungi Damar di hari ulangtahunnya.
Kami masih bercanda bersama sebelum Jessica datang. Namun setelahnya, Damar dan Jessica bercanda berdua, tanpaku.
Baiklah. Seperti cerita klise lainnya, kuputuskan untuk mengakhiri hubungan dengannya.
Semua karena Jessica, the third person.
5 Juli, hari ulang-tahunku. Hari yang tepat untuk momen itu.
Damar memasukki kos-kosanku. Sembari tersenyum, ia mengulurkan sekotak kado berukuran besar.
Kubuka kado itu.
Sebuah tulisan.
“Jessica dan Damar, sejak 2014.”
Oh Tuhan, kukira Jessica the third person.

Ternyata akulah the third person.

Tulisan ini menjadi salah satu kontributor terpilih lomba Flash Fiction 200 Kata yang diadakan oleh Mazaya Publishing House :)

1 komentar: